MASHA ALLAH , KISAH NAJA, BOCAH PENDERITA LUMPUH OTAK YANG HAFAL 30 JUZ AL-QURAN


Bocah laki-laki berbaju jingga itu duduk di atas kursi roda di tengah panggung besar sebuah kompetisi penghafal Al-Quran cilik. Gerakan tubuhnya terbatas. Hanya jemari kedua tangannya yang tak berhenti beradu silang. Matanya sesekali menatap sekeliling panggung, lalu pandangannya menyapu ke arah penonton di hadapannya.


Kemudian, setelah hening sejenak, seorang juri membacakan sebuah potongan ayat Al-Quran. Si bocah tadi, Muhammad Naja Hudia, mendengarkan dengan serius. Lalu, dengan sedikit terbata, ia menebak ayat itu, “Halaman 176, surat Al-A’raf, juz 9.” Jawaban yang kemudian membuat juri dan para penonton takjub dan terharu sekaligus.


Naja tidak seperti anak kebanyakan. Bocah sembilan tahun itu menderita celebral palasy atau kelumpuhan otak. Sejak kecil ia kehilangan kemampuan motoriknya. Ia menjalani aktivitas sehari-hari dari atas kursi roda yang menopang tubuhnya.

Keterbatasan fisik tak menghalangi minatnya menghafalkan Al-Quran. 30 Juz ia hafal hanya dalam waktu 10 bulan. Tak cuma ayat per ayat, Naja juga ingat letak dan halaman ayat-ayat Al-Quran yang dibacanya. Seperti yang ia tunjukan di sebuah program stasiun televisi swasta awal Mei 2019 lalu.


Ada kesabaran dan perjuangan besar di balik kondisi Naja sekarang. Ia lahir prematur di usia kandungan tujuh bulan pada November 2009. Dahlia Andayani, ibunya, terpukul begitu dokter memvonis putranya mengalami kelumpuhan otak.


“Naja lahir nggak nangis, jadi supply oksigennya nggak sampai ke otak. Dari situ cel-cel otak untuk bagian motoriknya dia terganggu,” kenang Dahlia Andayani, ibunya.


Tumbuh dengan kondisi seperti itu, membuat orang-orang memandang Naja sebelah mata. Bahkan, ada yang menganggap apa yang menimpa Naja adalah azab dari dosa orang tuanya. “Sedih saya waktu itu,” ucap Dahlia yang sehari-hari mengajar di sebuah kampus di Mataram.


Ia dan suaminya, Agusfian Hidayatullah, mencoba tak menyerah. Berbagai pengobatan dan terapi dijalani agar Naja bisa tumbuh seperti anak-anak lain. Tetapi perjuangannya tak selalu mulus. Saat Naja berusia satu tahun, misalnya, Dahlia berkonsultasi ke dokter anak dekat rumahnya.